Senin, 02 Januari 2017

keracunan banda neira..

sampai jadi debu?
sungguh?

cinta setangguh apa?
mencintai karena apa?
kau beri apa?


sampai jadi debu?
menua dan hilang bersama?
sampai semua lusuh?
dan letih bercerita?

pada tuan yang telah jadi debu
dan nona yang lebih dulu jadi debu

sekejab itukah langkah kalian bersatu?
hanya berapa meter dari titik kalian bertemu..
sebelum sang nona terlanjur jadi debu


sampai jadi debu
tuan dan nona disatu padang
yang jauh memandang hanya ilalang dan belalang
dan bisik bisik bunga liar
yang bercerita tentang tuan nona yang bahagia, sampai jadi debu

cinta setangguh apa?
hingga sampai jadi debu.. kuasanya tetap utuh..
rasanya tetap pedih, dan rindunya makin menjadi..




efek denger lagu indie

diantara rerumputan, yang tak sama tinggi..
masih bau hujan tadi malam
belalang yang bergoyang goyang di ujung belukar


dasar danau yang kehijauan
dengan bayang pohon yang ingin ikut menyelam
daun yang layu ucapkan selamat tinggal
dan dengan tenang jatuh menggenang

duh, rindu makin jadi

Kamis, 29 Desember 2016

Hello Indonesia, ayey!




pura-pura sibuk sebulan terakhir ini karena poster diatas. 
buat temen-temen SMA yang kepengen ikutan, hayuklah.


websitenya di buka boleh loh :

www.helloind.co

Semua informasinya lengkap disana.


Ciaooow :D


Kamis, 22 Desember 2016

Postingan Setelah 2 hari gak bisa makan

Aku mau bersyukur atas sakit yang Allah titipkan sejak november 2014.
Sudah dua tahun 1 bulan.. sakit ini bener bener menyadarkan aku banyak hal, salah satu yang paling penting adalah, menyadarkan aku bahwa aku hanya seorang manusia. Benar benar seorang hamba.

Aku dibuat minta ampun karena gak bisa tidur dua bulan lebih cuma karena perkara batuk. Dua bulan sampe kena depresi karena sehebat apapun kantuk ku, batukku jauh lebih berkuasa. Setelah dua bulan baru ketemu obatnya, codein. Yang bikin aku tidur 12 jam dan batuk lagi di 12 menit ke 1. Dan langsung tidur lagi setelah minum obat lagi. Hari ke lima minum obat, halusinasi mulai datang. Sulit membedakan mana yang beneran terjadi, mana yang hanya khayalan, sampai akhirnya obat dihentikan, dan batuk mereda perlahan. 

Sakit ini pernah bikin aku nggak berharap untuk hidup lebih lama. Untuk apa? Menjalani hidup untuk mati perlahan yang mengerikan? Bahkan menurutku dulu, orang yang divonis ditembak mati jauh lebih beruntung daripada kena sakit ginjal. Paling nggak, menjelang kematian, tidak ada rasa sakit yang tak berkesudahan seperti ini. Hampir gak pernah satu haripun berakhir tanpa rasa sakit. Mengeluh? Sama siapa? Diri sendiri saja sudah capek dengernya, apa lagi orang lain. Dokter selalu nanya, ada keluhan? Kujawab : Nggak ada. Buat apa? Obat juga rutin. Yang ada kalo ngomong keluhan kedokter nantinya di salah-salahin. "Kamu sih, makannya kurang, minumnya kebanyakan, obatnya pasti gak rutin... dan bla bla kesalahan lainnya." 

Dari yang awalnya semangat banget mau gabung komunitas , sampe aku anti komunitas. Kenapa? Aku gak sanggup melihat kondisi temen temen seperjuanganku. Yang bentukannya "gak keliatan kaya orang sakit" itu cuma 1 diantara puluhan, mungkin ratusan. Selebihnya, bikin aku jadi kepikiran, "Oh, jadi aku nanti juga bakal kayak gitu? Kulitku? Mataku? rambutku? Cara jalanku?Mataku?" Argh... 

Sampe akhirnya aku ngerasain tuh, gimana rasanya kamu yang udah menjalani tes persiapan transplantasi ginjal kurang lebih 3 bulan. Bolak balik 3 provinsi urus sana-sini. Diopname selama seminggu, sampe udah nelen obat prograf, sampe h-1 hari operasi, tiba-tiba tim transplantasinya ngebatalin, karena alasan masalah kesehatan ayahku(sebagai pendonor).mau  Nangis? Gak, mau ketawa? gak lucu. Marah? sama siapa? Capek? Banget. 

Aku harus balik lagi ke jogja, nelen semua paitnya kenyataan dan ikhlas cuci darah 4 kali sehari setiap hari, lagi. Ikhlas harus sakit disemua sendi tiap malam sendirian dan dirasa sendiri. Ikhlas harus kram perut dan baringan sampe sembuh, ikhlas harus pas enak enak tidur, kebangun karna betis kena kram, dan cuma bisa ngeringis sendirian sampe kramnya ilang sendiri. dan ikhlas harus ngerasin sakit di setiap jari, pundak, pinggang, sambil pijit pijit sendiri sampe ketiduran. iklas juga kepala kemeng dan nelen paracetamol dan langsung rebahan. ikhlas juga pas lagi gak selera makan, eh salah beli makan, diare, makin gak selera makan, hb makin rendah, mau gak mau harus makan, harus ditelan, biar gak makin parah. ikhlas harus tidur pake 2 sampe 3 bantal, bahkan harus tidur duduk tiap malam, atau bahkan gak tidur semalaman dan baru bisa tidur abis azan subuh, eh pas jam 6 anak tetangga teriak2 nangis kejer sampe jam 8. ikhlas.


aku ngepos ini karena apa ya? karena lagi sedih. Salah satu 'pasien' yang aku anggap teladan sekarang lagi sakit banget. Beliau namanya sama kaya namaku, dia 6 tahun lebih  dulu sakit kaya aku. Setelah 6 tahun berhasil melewati ujian sakit ini tanpa terlihat menderita, akhir akhir ini dia mulai tampak kalah. Dia baru koma 8 hari, di rumah sakit udah berbulan bulan keluar masuk. sekarang belum bisa jalan. Menurutku dia pejuang hebat, selama 6 tahun pertama bener bener gak ada yang tau kalo dia sakit. dia simpen semuanya sendiri. Sampe akhirnya dia tumbang. Apalagi aku? cuma anak manja yang baperan. 


Diawal padahal aku mau bilang kalo aku bersyukur, tapi yang kutulis gak ada yang terlihat kaya bersyukur ya? nah, itu tadi kubilang, sakit ini bikin aku bener bener terlihat manusia. Banyak ngeluh. 

Tapi beneran, aku pasti akan menjadi orang yang sangat merugi di dunia ini kalo aku gak dikasih sakit ini.  Aku pasti akan menjadi orang yang sangat sia sia kalo gak dikasih sakit ini.


Berkat sakit ini, aku jadi tau bahwa mama dan ayahku mau berjuang untuk aku, mereka berdua adalah dua orang yang mau menyumbangkan ginjalnya buat aku. 
Berkat sakit ini, aku gak perlu kerja. haha. maksudnya, aku bebas mau ngapain aja, mau kerja atau cuma terlihat kerja, gak ada yang larang.

Yang pasti, berkat sakit ini, aku sadar kalo gak ada satupun yang bisa aku lakukan tanpa minta tolong sama Allah. Bahkan, untuk nafas enak aja, aku udah gak bisa. Aku butuh berbotol botol minyak kayu putih cuma untuk bisa nafas panjang. jantungku cuma 37%. bengkak, katupnya bocor pula. mana paru paruku gak pernah bagus, selalu kerendem.


17 januari 2017.
ini tanggal kedua aku transplantasi. rencana.
mama mau donorin ginjalnya.
itu artinya mama akan memberikan aku jalan untuk hidup yang kali kedua, kali pertama kan pas ngelahirin kan ya.
jangan ditanya deh rasa syukurku segede apa. gak ada kata kata buat mama. 


aku cuma berserah, pasrah, sama ketentuan Allah.
Apapun prosesnya, hasilnya, aku serahkan semua sama Allah.




Kamis, 19 November 2015

Keep Walking, Tika!


Hari ini, setelah terlalu sedih dengan salah satu postingan teman di FB yang seakan mementahkan kampanye saya soal donor organ. Dan tercium sedikit horror membicarakan soal transplantasi. Saat ini, disaat saya sedih dengan realitas bahwa transplantasi masih dianggap tidak etis dan HARAM, salah satu dokter senior, punggawa dokter spesialis penyakit dalam, sub spesiallis KGH di Salah satu rumah sakit terbesar di Yogyakarta, merespon positif cita-cita saya.

I am just so happy and sad in the same time.

Saya memang harus jalan terus, saya harus mencoba menapikan orang orang yang mungkin beranggapan kalo saya terlihat egois. Egois karena tidak menerima sakit ini sebagai jalan kematian. But, I need to say, kalo saya sudah cukup bersyukur dengan kondisi saya saat ini. Sangat amat bersyukur. Anda bisa lihat itu di mata saya. Tapi, saya merasa kalau saya tidak boleh berhenti sampai disini. Saya harus berbuat sesuatu untuk ratusan ribu orang yang sekarang sedang berjuang dengan rasa sakitnya. Saya harus melakukan sesuatu, walaupun mungkin akan terdengar seperti koar koar tidak jelas.

Saya tahu persis, banyak yang pro dan kontra walaupun secara mata hukum donor organ merupakan hal yang legal. Saya bertanya dengan sang dokter. Apa menurutnya kampanye saya terlalu sia-sia? Siapa yang harus saya gandeng untuk mencoba mewujudkan cita cita saya? Cita-cita agar ada banyak orang yang teredukasi dan memilih untuk menjadi donor organ hidup maupun cadaver? Cita cita saya agar mereka yang sakit ginjal kronis bisa memiliki harapan hidup yang lebih baik? Cita cita saya agar mereka terlepas dari tusukan jarum fistula yang besar yang membuat mereka bertahan hidup dari senin ke kamis, kamis ke senin? Cita cita saya agar ada kartu donor organ di Indonesia? Sampai saat ini, saya belum memiliki tempat diskusi yang tepat, hingga akhirnya sang dokter itu merespon pesan saya dan menyambutnya dengan positif. Dan, hanya Allah yang tahu betapa bahagianya saya saat ini.

Saat ini saya kembali bersemangat, dan menemukan alasan yang lebih kuat dari sebelumnya untuk mengkampanyekan donor organ. Bahwa masyarakat Indonesia memang butuh edukasi mengenai hal ini. Bagi saya, ini perkara penting, mendesak. Dan saya akan mulai dari diri saya sendiri, mulai saat ini, dan dari hal kecil. 


"Siapaun anda, saya mengajak anda untuk sesekali datanglah ke ruang hemodialisa(ruang cuci darah) di rumah sakit terdekat. Anda akan melihat begitu banyak jiwa-jiwa hebat disana. Dan semoga ini sebagai pengingat atas rasa syukur kita kepada Allah. Dan, jika ada waktu senggang, silahkan baca kenapa di negara negara Islam lainnya transplantasi menjadi legal, oh, ya, sebenarnya di Indonesia juga legal, dan sudah ada aturan hukumnya. Dan saya tidak lupa berdoa, bahwa semoga ilmu kedokteran semakin canggih dan suatu saat menemukan pengobatan yang lebih baik, efisien, dibanding transplantasi."
Salam hangat,
Saya, Tika Musfita.
satu dari ratusan ribu Pejuang Gagal Ginjal Kronis di Indonesia. smile emoticon


Selasa, 17 November 2015

Nanti, Kalau Sudah Transplantasi.

Nanti, Kalau sudah transplantasi,
aku pasti merindukan malam malam mengganti cairan dialisat.
Saat perut melilit dan kram di terpa dialisat yang tidak dihangatkan.
Dan tidak perlu menulis berapa cairan yang tertarik oleh dialisat.

Nanti, kalau sudah transplantasi,
Aku tidak perlu disuntik hemapo yang sangat pedih itu.
Tidak juga gila gilan menelan putih telur yang tidak kusuka.
Dan bisa minum segelas penuh setelah makan.

Nanti, kalau sudah transplantasi,
Aku akan rajin olahraga lagi, kembali menari, dan berenang
Tidak perlu takut dengan selang yang kerap tertarik ketika melepas baju
dan bisa tidur menyamping dengan lebih tenang.

Nanti, kalau sudah transplantasi,
aku berharap bisa mengingat hari hari yang penuh dengan kesakitan dan kengiluan.
Atas rasa makanan yang dulunya hilang dilidah.
Rasa kram yang memutus semua persendian.
Dan semua sindrom berawalan hypo-hyper yang menghentakkan rasa nyaman.

Nanti kalau sudh transplantasi,
Aku ingin bersyukur atas kesempatan kedua yang diberikan.
Mengingat betapa merdekanya kepala tanpa tekanan dan semua sendi tanpa keluhan

Nanti, jika waktunya sudah datang
aku tetap ingin menjadi yang pandai bersyukur
Atas segelas es yang mengguyur tenggorakan
Sepiring Nasi padang yang bikin kenyang
Dan dawet ayu yang bikin bahagia serasa bisa terbang.

Nanti, Disaat yang Allah Tentukan

Jumat, 13 November 2015

Catatan 2 tahun mendatang


Imamku,
Aku memilihmu menjadi partner hidupku. Mempercayaimu memilih arah untuk kita berdua. Kau menarik tanganku menuju kesebuah pusat kota. Kita memasuki berbagai toko kecil yang lucu. Kau menarik pintu dan kursi untuk mempersilahkanku lebih dulu. Disana, kita bersama mencicipi setiap macam rasa di meja.

Kita menertawakan setiap peristiwa. Mengenangnya sebagai sebuah romantisme cinta. Kau mengulang lagi setiap cerita kita. Mengucapkannya dengan semua kerinduan untuk kembali mengulangnya. Merayakan bagaimana hebatnya Tuhan menyatukan hati kita pada kali pertama. Kau memegang tanganku dan berterima kasih. Aku membalas genggamanmu dan kuisyaratkan bahwa akupun merasa sama.

Imamku,
Kau mengajakku keluar dan menikmati gerimis yang manis. Hanya sejenak berteduh untuk kembali bertanya, Siapkah kita melewati kehidupan gerimis ini? Sebagaimana tuhan pertemukan kita dimusim hujan. Dengan pandangan yang kabut dan rasa dingin yang menggigil. Serbuan perihnya hujan yang jatuh kemuka dan percikan mobil dijalanan yang semena mena. Kau ingatkan aku bahwa mungkin kita tidak bisa selamanya berteduh, kita harus terus jalan tanpa jas hujan, tanpa payung. Kita harus menikmati hujan. Kau merangkul bahuku dan mencoba menghangatkannya. Aku menatapmu dan kukatakan bahwa aku akan mengeringkan setiap baju dan menyelimutimu sepanjang malam.

Imamku,
Mungkin akan kita temukan jalan dengan banyak simpang yang tiada tanda. Kau bisa bertanya tentang kemana yang lebih kusuka, dan kau bisa jelaskan padaku dimana jalan yang kau anggap penuh bunga. Jika pun harus bertemu beberapa serangga dan lubang genangan, aku tetap akan mengikutimu.

Imamku,
Jika nanti salah satu kakiku lelah, maka minggirlah sejenak dan biarkan pondok kecil menjadi pemberhentian sementara. Namun jika saat itu kau harus terus melaju, aku menunggu di pondok kecil ini sampai kau kembali menjemputku. Karena aku tidak memintamu untuk selalu disampingku. Pergilah, lalui siangmu dengan merindukanku.

Imamku,
Sepanjang jalan pulang dari menjemputku, berceritalah tentang setiap kebahagianmu. Ceritamu dan latar senja adalah kesukaanku. Dengan sisa gerimis yang kita injak di rerumputan, kita merencanakan kembali, kemana kita akan pergi esok hari. Pergi untuk menjadi cerita dikemudian hari.



Sebuah catatan,
ditulis dua tahun dari hari ini,
persis ketika diluar sedang gerimis, manis.