Satu Tahun Perayaan Duka?

Sengaja kubiarkan laptopku bisu. Tanpa musik ataupun muratal. hanya bunyi kipas angin yang berputar, dan bunyi keyboard ketikanku. kadang kadang suara balita dan bunyi pagar kost-an berderik tanda teman teman satu kost-an pulang.

Saya masih dikamar 15 Kost-an Mahendra Bayu. yang tiap dindingnya telah dipenuhi kertas kecil kata kata bahasa arab(mufrhadat), hapalan tasrif minggu depan dan 100-an target hidup. Ya, saya masih Mahasiswa Sastra Asia Barat, Program studi Sastra Arab 2009 Univ. Gajah mada.

Satu tahun saya mengemban status sebagai "thaalibah". Tapi saya mendapati diri saya sangat miskin ilmu. Masih sangat miskin. Sangat tertinggal. Saya benar benar sadar apa penyebabnya. Saya tidak fokus, malas, menunda nunda, terlalu menganggap gampang, mengabaikan hal yang terlihat sederhana, dan saya gampang terombang ambing suasana. Itulah yang sedang saya musuhi saat ini. Yang saya musuhi di semester ini.


Saya lupa kalau saya dikelilingi oleh lingkungan yang begitu baik, yang dengan sabar menjawab pertanyaan sepele saya. "maa hadza?ma ma'na..?". hampir seminggu saya mencari mangsa. Meneror semua teman teman untuk menanyakan apa yang ustadz atau ustadzahnya katakan, dan apa yang mereka tulis di papan tulis.


Dalam buku Negeri 5 menara, disebutkan bahwa kita bisa berbicara bahasa arab APABILA kita benar benar ingin bersungguh sungguh. Dan teman satu angkatan juga mengatakan, hasil belajar itu tidak ditentukan dengan lama atau tidaknya kita belajar, tapi bagaimana kita mencapainya. Dan teman SMA saya juga pernah mengatakan, kalau 3 prioritas akademis itu adalah Paham, Mampu menjelaskan dengan baik dan benar, yang ketiga baru berbicara Nilai.

Saya memang sedang dalam keadaan shock. Shock mendapati diri saya sudah di semester 3 dengan ilmu minim, shock dengan kedatangan adik adik baru yang membuat saya merasa dikejar oleh status sosial sebagai kakak tingkat, dan saya benar benar merasa bersalah dengan grade point average saya semester 2. Bukannya bermaksud sombong. Hanya untuk sharing saja.

Ketika saya semester 1, saya benar benar buta dengan huruf hijaiyah. Menuliskan kembali Bismillahirahmanirahim saja saya tidak tahu. Apalagi membaca teks teks gundul. Tapi saya merasakan Passion yang luar biasa, saya mendapati diri saya benar benar ingin tahu, dan cukup bersungguh sungguh, hasilnya, grade point average saya 3,82. Dan sepertinya hanya ada 2 orang yang mendapatkan nilai itu. Dan saya salah satunya. Satu kata : "Mustahil". Mana mungkin orang seperti saya berhak menerima nilai sebesar itu. Sedangkan di target saya telah menulikan angka 3,51 untuk semester pertama. Tapi apa boleh buat, saya anggap itu rejeki saya. Saya anggap penilaian Dosennya berdasarkan semangat saya. Dan saya merasa harus melakukan sesuatu dengan nilai sebesar itu. Tadinya, saya niatnya seperti itu, belajar lebih tekun lagi, sampai akhirnya saya bisa menjajarkan posisi dengan teman teman yang lainnya.

Semester 2 mulai datang. Saya benar benar dalam ujian. Dari masalah akademis, keluarga, sosial, sampai hati saya sedang di uji. Dan saya cukup gagal dengan ujian ujian itu. Yang akhirnya membuat ilmu saya di semester 2 ikut mandek total. Saya pikir, nilai yang pantas untuk saya semester 2 kemaren tidak lebih dari 2,1. Nilai yang cocok untuk hampir semua mata kuliah adalah C atau D, malah mungkin harusnya E. Tapi Allah menyelamatkan saya dari pengulangan mata kuliah. Saya masih diselamatkan saudara saudara. grade point saya semester 2 turun 0,6, dan berubahlah grade point average saya, yang tadinya 3, 82. Karena grade point saya 3,2 . maka grade point average saya saat ini adalah 3, 52. Hampir saudara saudara. Hampir jatuh kelembah.

Sekali lagi, saya bukan sombong, teman saya ada yang grade pointnya 3,95 semester ini, kakak tingkat saya juga banyak yang 4,00. Malah nilai 3,2 itu masih kebesaran dengan usaha otak saya selama ini. Kalau saya dosennya, maka saya beri 2,00. Itupun sudah ditambah nilai kasihan karena saya jauh dari kampung halaman.

Maka, yang menjadi titik temu semua itu adalah : Bagaimana saya membuat diri saya tetap termotivasi untuk menjadi lebih baik. Untuk menjadi Mahasiswa sesungguhnya. Hingga akhirnya menjadi manusia seutuhnya yang bisa bermanfaat untuk orang lain.

Masih dalam kondisi berduka dan pemulihan atas apa yang telah menimpa wilayah akademis saya. Saya telah benar benar libur 2 bulan penuh. Dari tanggal 7 Juli sampai 16 september bersemedi dirumah. Sekarang saatnya saya action. Kemudian action, lanjut action lagi.

Kipas angin masih berputar, Jam 12: 39 PM
Saya harus BISA berbicara bahasa Arab.

Komentar

  1. sebelum membaca tulisan ini, dalam benak saya akan timbul empati atas musibah yang menimpa si penulis...judul Satu Tahun Perayaan Duka, membuat saya memperkirakan adanya tulisan-tulisan penuh derita dari si penulis, ternyata tidak..., alhamdulillah ^^
    karena si penulis adalah seorang yang gemar membaca psikologi, saya teringat dengan john locke dengan teori tabularasa yang dia kemukakan, yaitu anak kecil yang dilahirkan itu seperti kertas putih yang bisa diisi apa pun...
    apa hubungan tabularas ini dengan tulisan di atas? hubungan yang ingin saya kemukakan adalah bahwa si penulis adalah orang yang masih bersih atau belum terisi oleh bahasa Arab, jadi dirinya berbeda dengan mereka, atau teman-temannya yang telah berisi bahasa Arab...
    memang itu suatu kekurangan yang dimiliki oleh si penulis, tetapi penulis memiliki satu hal yang, mungkin, tidak dimiliki oleh teman-teman penulis,yaitu RASA INGIN TAHU atau CURIOSITY yang tinggi...
    berbekal rasa ingin tahu ini, penulis dapat dengan lahapnya memakan semua mufradat baik yang dihidangkan oleh dosen maupun yang penulis pilih sendiri...adapun teman-teman yang sudah bisa atau sudah memiliki bekal bahasa Arab yang cukup, mengalami apa yang dinamakan kejenuhan atau mungkin malah kebosanan, semoga perkiraan ini tidak tepat...
    nah, di semester tiga ini penulis punya keingin untuk memperbaiki apa yang dihasilkan di semester sebelumnya...dengan menanamkan dalam dirinya untuk menjadi seorang mahasiswa sesungguhnya (seperti apa mahasiswa sesungguhnya itu?)...
    bagi saya itu sah-sah saja dan bagus, tetapi yang menurut saya lebih penting adalah pengembangan rasa ingin tahu yang telah dimilikinya selama ini...
    teruslah haus akan ilmu pengetahuan...
    COGITO ERGO SUM

    BalasHapus
  2. Sebelum membaca komen dari sang anonim, dalam benak saya timbul bahwa sang anonim adalah sosok yang peduli terhadap orang orang disekitarnya. Diminta membaca dan sedikit komen, malah buat sampai hampir satu layar,hehe.. :D

    Itu menunjukkan bahwa beliau merupakan seorang yang dewasa dan bijaksana sekaligus sabar*kalo nggak, nggak mungin sampai sepanjang ini,hehe..

    terima kasih untuk komennya :D
    iya, sepertinya masalah yang cukup bisa di bold, italic, caps look dan dikasih tanda petik adalah bagaimana mempertahankan rasa ingin tahu dan Berani ingin tahu, Karena terkadang ada keinginan untuk tahu, tapi malu.Kadang kadang sang penulis merasa bahwa dia adalah satu penyakit diangkatannya dalam pelajaran Arab. karena membuat teman teman yang ingin ilmu baru yang lebih tinggi malah berkutat di masalah yang sangat sepele*dan tidak sepele menurut saya :p


    Penulis tahu betul,bahwa mempertahankan rasa ingin tahu terhadap sesuatu berbanding lurus dengan usaha yang akan dia lakukan. Sayangnya semster lalu dia harus mencoba bagaimana rasanya hidup tanpa rasa ingin tahu. Rasanya?Hambar total..

    Maka, walaupun postingan blog ini sudah tertulis, bukan berarti semangat ingin tahu tetap permanen, tidak..dan itu yang harus dicari tahu lagi solusinya :D

    BalasHapus
  3. rasa ingin tahu yang paling besar dimiliki oleh anak-anak kecil.
    di saat usia mereka masih muda, dan tabularasa mereka masih lebar, mereka ingin tahu akan banyak hal, terlebih yang hadir lewat penglihatan mereka.
    terbukti, mereka sering bertanya tentang hal-hal yang membuat orang dewasa kalang kabut menjawabnya...contohnya shincan...hehe
    so, mari kita bangkitkan semangat ingin tahu seperti ketika kita kecil dulu..
    pasti tabularasa kita masih berlapis-lapis yang menanti kita isi, tidak hanya di semester 3 ini tetapi sampai ke liang lahad, seperti kata hadits..
    indahnya ^^

    BalasHapus
  4. tika: inget banget waktu dulu ituu.. meski masih suka telat tapi ga pernah takut masuk kelas. duduk paling depan, semangat kerjain tugas, meski mepet deadline. ;D

    biru langit: *angguk2

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer